Konco-konco

Rabu, 14 Disember 2011

rasa jiwa



Ku selak tabir jendela,
Merenung ke awan yang kian kelabu,
Perlahan-lahan ceria sinar suria terpadam,
Mengundang suram gelita.

Bayu bertiup halus dan semakin kencang,
Pohonan mula menggugurkan helaian-helaian daunan yang tiada guna lagi,
Aku mampu melihat kesedihan daunan yang gugur,
Meraung enggan meninggalkan bakanya,
Namun apakan daya itu fitrah dunia.

Awan kian sedih,
Perlahan-lahan menitiskan airmata,
Gugur menimpa kekeringan tanah,
Rumput bagai menari-nari,
Seolah memujuk jiwa lesuku.

Perlahan aku membuka cermin jendela,
Ingin merasa kedinginan sore itu,
Ah! lembut bayu menampar pipiku,
Membuatku merasa puas akan sentuhannya.

Ghairahku semakin memuncak,
Inginku semakin mencanak,
Mahuku semakin mendesak,

Aku melangkah ke lapangan indah,
Ku serah sekujur tubuhku dibasahi tangisan awan,
Sungguh indah...

Ku dongakkan kepala,
Merasa nikmatnya mutiara Ilahi,
Menampar setiap kusam wajahku,
Membasuh setiap dukaku.

Aku melangkah lagi,
Ku kayuh langkah semakin laju,
Berlari tanpa tuju,
Entah, aku buntu disaluti pilu.

Ternyata kecewa derita,
Sengsara jiwaku dirasai seluruh alam,
Alam turut menangis sedih akan nasibku,
Alam menemani dukaku,
Alam juga yang memujuk laraku.

Ingin sekali aku laungkan ketika itu,
Aku Cinta Padamu.

Nukilan Jiwa: S. Abdul Salam
11:51 PM 14/12/11

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...